Batas Desa dan Demografi

Batas Desa dan Kondisi Sosial Kemasyarakatan

Batas Desa

LATAR BELAKANG

Desa Parereja artinya tanaman yang subur Desa Parereja dengan jumlah penduduk 6.281 jiwa terdiri dari L : 3.086 P : 3.195 KK 1.899 Hak Pilih 4.321 dengan luas geografis 562 Ha berada di sebelah barat Desa Banjarharjo ± 2 Km.

Mata pencaharian penduduk warga masyarakat Desa Parereja rata – rata Petani dan Buruh Tani, serta memiliki ada budaya dan tradisi yang sangat beragam dengan aktifitas masyarakat yang cukup agamis.

Batas Desa Parereja
Sebelah Barat : Desa Cigadung,
Sebelah Utara : Desa Tegalreja,
Sebelah Timur: Desa Banjarharjo, dan
Sebelah Selatan : Tanah Wilayah Hutan Negara terdapat kondisi tanah yang berbukit – bukit.

Gambaran umum Demografis di wilayah Desa Parereja yaitu : Curah hujan tinggi : 91 mm Jumlah bulan hujan : 7 bulan Suhu rata – rata : 30 / 40 °C2.

2. SEJARAH DESA PAREREJA

Nama Desa : Parereja, dengan Nama lain : Parireja, dari asal bahasa : Sunda dan Jawa, yang selanjutnya memiliki arti atau makna : Pare bermakna Padi dan Reja bermakna Subur sehingga jika di satukan menjadi Padi yang Subur.

Desa Parereja sendiri adalah gabungan dari 2 pedukuhan yakni dukuh Pariagung dan dukuh Pangawaran.

Dua nama pedukuhan itu sendiri mempunyai makna dan arti serta sejarah masing – masing yaitu : PARIAGUNG, nama Pariagung itu sendiri di ambil dengan musyawarah para tokoh sebelum dibangun sebuah Balai Desa. Saat itu para tokoh setiap melakukan musyawarah bersama masyarakat, dilaksanakan di bawah pohon Pari yang tinggi dan rindang ( Halaman rumah Astra Kapin sekarang Ibu Enah ) dan untuk mengumpulkan warga, para tokoh menggunakan sebuah goong atau bende, maka dengan kesepakatan bersama diambil dari gabungan nama pohon Pari dan suara goong yang menjadi ciri khas permusyawaratan warga setempat, yang akhirnya pedukuhan tersebut dinamakan Pariagung. Dusun Pariagung terletak disebelah selatan. PANGAWARAN, nama Pangawaran diambil dari satu kisah yang konon kabarnya di sebuah pedukuhan ada sebuah pohon yang angker disekitar / di tengah sungai kecil ( lebak )/ saluran air si awar – awar yang di huni bangsa Jin / Dedemit bernama Banaspati.

Pada suatu hari ada seorang pencari madu mangambil madu di pohon tersebut, pencari madu tersebut hilang di pohon itu dan dipercaya dimangsa Jin penunggu pohon tersebut. Maka antara lebak si awar – awar dengan pemukiman warga dibangunlah sebuah pagar pembatas ( sunda : digagawar ), dengan adanya perbatasan itu dinamailah pemukiman tersebut dengan nama Pangawaran, Dusun Pangawaran terletak disebelah utara.

Pada masa Pemerintahan Desa Parereja di tahun 1938 di bawah Pimpinan Kepala Desa JAHARI dilakukan musyawarah dengan masyarakat dua pedukuhan itu yaitu Dukuh Pariagung dan Dukuh Pangawaran, dengan menghasilkan satu kesepakatan untuk menyatukan kedua pedukuhan tersebut.

Berdasarkan hasil Musyawarah Desa bersama Tokoh Desa dan Masyarakat maka disatukanlah dua pedukuhan tersebut dengan nama PAREREJA. Nama Parereja diambil dari dua suku kata yaitu Pare dan Reja, Pare berarti Padi dan reja berarti subur, nama Desa Parereja sendiri di ambil karena Desa Parereja dinyatakan sebagai wilayah subur Tanah Pertaniannya. Desa Parereja sendiri memiliki tempat Keramat yaitu HULU DAYEUH adalah merupakan salah satu tempat mistik dan angker denga tumbuh pohon raksasa yang sudah tumbuh ratusan tahun, yaitu pohon caringin / kiara, yang terletak di RT. 005 / RW. 001 Dusun I, di atas tanah berukuran 150 m².

HULU DAYEUH dari kata bahasa sunda yang artinya HULU : Kepala, DAYEUH : Desa, bukan berarti Kepala Desa tapi PUPUNJER / PUSER : Pusat Desa ( PUSEUR DAYEUH ). Tempat Hulu dayeuh ini di Jaman ROKOMBA Kepala Desa Bapak RUKMA dipelihara oleh salah satu warga masyarakat Parereja, asal Kota Tegal Jawa Tengah bernama : AKI SURANGGA tanpa mendapat upah atau imbalan apapun hanya berharap keridhoan dari Allah SWT, semata.

Mengingat tempat HULU DAYEUH mengandung mistik di pohon besar tersebut, Aki Surangga sering memberi peringatan dan imbauan kepada masyarakat setempat dan sekitarnya, untuk tidak merusak dan mengganggu keberadaan lokasi tersebut, apalagi menebang dan mengambil kayunya sekalipun untuk kepentingan umum, kata Aki Surangga.

Barang siapa berani merusak atau menggangu tempat ini maka tunggu akibatnya seanak cucunya tidak akan mendapatkan keberkahan. Entah pada tahun berapa Aki Surangga meninggal dunia dan keberadaan makamnya pun tidak dijelaskan. Hingga saat sekarang keberadaan Hulu Dayeuh tidak terawat, kecuali warga lingkungan terdekat suka nyekar.

Pada jaman Pemerintahan Desa Parereja di Pimpin Abas Rahmat tahun 1999 lokasi tersebut di pagar tembok dengan ketinggian 125 cm. Serta lokasi tersebut sekali – kali mendapat target Jumat bersih.
Pemdes
Parereja - Banjarharjo

Kondisi Sosial Masyarakat Desa

Kondisi Sosial Kemasyarakatan

Pemdes
Parereja - Banjarharjo
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp