Sejarah Desa Parereja Kecamatan Banjarharjo

LATAR BELAKANG

Desa Parereja artinya tanaman yang subur. Desa Parereja dengan jumlah penduduk 6.281 jiwa terdiri dari L:3.295 KK 1.699 Hak pilih 4.323 dengan luas geografis 562 Ha berada disebelah barat desa Banjarharjo _+ 2 Km. Mata pencaharian penduduk warga masyarakat desa Parereja rata rata Petani dan buruh tani,serta memiliki adat budaya dan tradisi yang sangat beragam dengan aktifitas masyarakat yangcukup agamis.
Batas desa Parereja

sebelah barat : Desa Cigadung ,
sebelah utara : Desa Tegalreja ,
sebelah timur : Desa Banjarharjo dan
sebelah selatan : tanah wilayah hutan negara terdapat kondisi tanah yang berbukit bukit.

Gambaran umum Demografis di wilayah desa parereja yaitu : Curah hujan tinggi : 91mm jumlah bulan hujan : 7 bulan -suhu rata rat : 30/40 c

SEJARAH DESA PAREREJA
Nama Desa : Parereja ,dengan nama lain :Parereja ,asal dari bahasa: sunda dan jawa yang selanjutnya memiliki arti atau makna Pare bermakna padi dan reja bermakna subur,sehingga jika disatukan menjadi padi yang subur,desa Parereja sendiri adalah gabungan dari dua pedukuhan,yakni dukuh Pariagung dan dukuh Pangawaran  dua nama pedukuhan itu sendiri mempunyai makna dari arti serta sejarah masing masing yaitu : PARIAGUNG,nama pariagung sendiri diambil dengan musyawarah para tokoh sebelum dibangun sebuah balaidesa .

Saat itu para tokoh setiap melakukan musyawarah bersama masyarakat ,dilaksanakan dibawah pohon pari yang tinggi dan rindang (berada di halaman rumah Astra kapin sekarang ibu Enah) dan untuk mengumpuylkan warga , para tokoh menggunakan sebuah goong atau gong atau bende maka dengan kesepakatan bersama diambil dari gabungan nama pohon pari dan suara goong yang menadi ciri khas permusyawaratan warga setempat yang akhirnya pedukuhan tersebut dinamakan Pariagung dusun periangan terletak disebelah selatan.

PANGAWARAN , nama pangawaran diambil dari satu kisah yang konon kabarnya disebuah pedukuhan ada sebuah pohon yang angker disekitar/ditengah sungai kecil ( lebak/saluran kecil si awar awar yang dihuni bangsa jin /dedemit bernama Banaspati ).pada suatu hari ada seorang pencari madu mengambil madu dipohon tersebut ,pencari madu tersebut hilang dipohon itu dan dipercaya dimangsa jin penunggu pohon tersebut ,maka antara lebak si awar awar dengan pemukiman warga dibangunlah sebuah pagar pembatas (sunda:digagawar ).dengan adanya perbatasan itu dinamailah pemukiman tersebut dengan nama Pangawaran.dusun pangawaran terletak disebelah utara.

Pada masa pemerintahan desa Parereja di Tahun 1938 dibawah pimpinan kepala desa JAHARI dilakukan musyawarah dengan masyarakat dua pedukuhan itu yaitu dukuh Pariagung dan dukuh Pangawaran ,dengan menghasilkan satu kesepakatan untuk menyatukan kedua pedukuhan tersebut dengan nama PAREREJA.nama Parereja diambil dari dua suku kata yaitu Pare dan Reja , Pare berarti Padi dan Reja berarti Subur.nama desa Parereja sendiri diambil karena desa Parereja dinyatakan sebagai wilayah yang subur tanah Pertanianya.

LAHIRNYA DESA PAREREJA TANGGAL 28 AGUSTUS 1938

TEMPAT KERAMAT
Desa Parereja sendiri memiliki tempat keramat yaitu HULUDAYEUH adalah merupakan salah satu tempat mistik dan angker dengan tumbuh pohon raksasa yang berusia ratusan tahun,yaknipohon kiara / caringin yang terletak di RT.005 RW.003 Dusun I ,Diatas tanah berukuran 150 m2. Hulu Dayeuh berasal dari dua kata bahasa sunda yakni HULU yang berarti Kepala dan DAYEUH yang berarti Desa,bukan berarti kepala desa tapi PUPUNJER/PUSER/PUSAR: Pusat Desa(PUSEUR DAYEUH).

Tempat huludayeuh ini di zaman ROKOMBIA Kepala Desa RUKMA dipelihara oleh salah satu warga masyarakat desa Parereja,asal kota Tegal Jawa Tengah yang bernama AKI SURANGGA tanpa mendapat upah atau imbalan apapun hanya berharap KeRidhoan Allah SWT semata.mengingat tempat huludayeuh mengandung mistik dipohon besar tersebut.Aki Surangga sering memberi peringatan dan himbauan kepada masyarakat setempat dan sekitarnya ,untuk tidak merusak dan mengganggu keberadaan lokasi tersebut,apalagi menebang dan mengambil kayunya sekalipun untuk kepentingan umum.

”Barangsiapa berani merusak atau mengganggu tempat ini ,maka tunggu akibatnya,seanak cucunya tidak akan mendapatkan keberkahan.” Entah pada tahun berapa Aki Surangga meninggal dunia dan keberadaan makamnya pun tidak diketahui. Hingga saat sekarang keberadaan HULUDAYEUH tidak terawat kecuali warga lingkungan terdekat suka nyekar.

Pada zaman pemerintahan desa Parereja dipimpin Abbas Rahmat tahun 1999 lokasi tersebut dipagar tembok dengan ketinggian 1,25 cm.serta lokasi tersebut sekali kali mendapat target Jum’at bersih.

NARASUMBER :
1.CARSONO (ONO WAJI)
2.TARJANI
3.SYAHRONI
4.SUMMADI
5.NURAHMAN
6.SYAMSURI
7.HARJA

Team Penyusun :
Ketua : WARSIDI BS
Anggota : 1.TARSUDI S.Pd
2.NANANG HERYANA ,A.Md
3.SAMSUDIN WARJO
4.CASWINTO

Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp