Lembaga Desa Parereja Belajar Penanganan Sampah dan Biopori

Bogor, parereja.desabrebes.id

Sebanyak 40 peserta mengikuti studi banding ke Kabupaten Bogor, peserta ini terdiri dari utusan perwakilan lembaga desa yakni Perangkat Desa, TP PKK Desa, Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), LPM, BPD, Pendamping Desa, dan perwakilan Kecamatan Banjarharjo.

Lokasi studi belajar penanganan sampah dan sumur resapan di KSM TPST 3R Bubulak Kota Bogor Kompleks Griya Wanakarya Permai, blok b2 no 9 kelurahan Bubulak Bogor Barat, dan 2 Kelompok TPS 3R sampah yang lainya yang sudah termanajemen dengan baik.

Pemerhati Lingkungan dan Ekosistem di Bogor Budi Rahardjo mengatakan, bahwa diciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini untuk menjaga ekosistem lingkungan yang ada. ” Makhluk hidup yang ada harus difungsikan dengan baik, termasuk ketika mengelola sampah, maka bukan hanya lingkungan bersih, tapi tugas manusia harus menjadikan khalifah kita untuk menjaga keseimbangan alam ini,” katanya di depan peserta, Sabtu (19/1/2019).

Lanjut budjo, sudah saatnya di desa menerapkan sumur resapan dan menciptakan biopori di dalam tanah. Kenapa demikian, karena 

Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos.

Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.

Biopori mampu meningkatkan daya penyerapan tanah terhadap air sehingga risiko terjadinya penggenangan air (waterlogging) semakin kecil.

Keunggulan ini bermanfaat sebagai pencegah genangan air. Dinding lubang biopori akan membentuk lubang-lubang kecil (pori-pori) yang mampu menyerap air.

Sehingga dengan lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm, dengan perhitungan geometri tabung sederhana akan didapatkan bahwa lubang akan memiliki luas bidang penyerapan sebesar 3,220.13 cm2.

Tanpa biopori, area tanah berdiameter 10 cm hanya memiliki luas bidang penyerapan 78 cm persegi. Biopori tersebut bermanfaat untuk menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air.

Budjo menambahkan, para peserta diberi pengetahuan bagaimana cara memilah dan memilih sampah organik dan unorganik, karena pengolahan menjadi kunci dalam daur ulang dan nilai ekonomisnya juga berbeda. Mana yang bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik, kompos dan dijual ke pengusaha rongsok, bahkan di TPST bisa beternak itik atau bebek dimana hewan ini bisa makan sisa makanan dari rumah tangga.

Sementara itu, Kepala Desa Parereja, Kecamatan Banjarharjo Wakim mengatakan, tujuan warga dan lembaga ini belajar penanganan sampah dan sumur resapan berbasis masyarakat diharapkan nanti di adopsi di desa parereja agar saat ada hujan tidak kebanjiran, kemudian dengan belajar penanganan sampah nantinya Bumdes bisa mengelola sampah baik organik dan non organik memiliki nilai yang menguntungkan dan kondisi desa menjadi bersih dan sehat. ( BU )

Share ke :
Facebook
Google+
Twitter
Telegram
Email
WhatsApp

Iklan Layanan Masyarakat