KARNAVAL DESA PAREREJA

Berbagai elemen masyarakat Desa Parereja mengikuti Karnaval Desa yang digelar pada Kamis, 22 Agustus 2019. Berkumpul di lapangan sepak bola Desa Parereja, ratusan peserta karnaval tumpah ruah dalam berbagai busana. Sekitar pukul 14.00 WIB karnaval dimulai, meskipun matahri cukup terik tetapi tak menyurutkan semangat masyarakat untuk berjalan menuju titik akhir pemberhentian. Tak hanya peserta karnaval, masyarakat Desa Parereja pun ramai-ramai menyaksikan barisan peserta karnaval di pinggir jalan. Tak sekadar menonton, masyarakat juga mengambil dokumentasi melalui foto maupun video.

Sembari menyaksikan peserta yang berjalan, masyarakat juga meminta foto bersama dengan peserta karnaval dengan pakaian yang mereka anggap “wah”. Seperti ada peserta yang memakai kostum ibu peri, dengan nenek sihir, anak-anak yang berkostum mayoret, ibu-ibu yang berseragam payung, dan masih banyak lagi. Puluhan rombongan memeriahkan karnaval, dari rombongan SD di Parereja, kemudian rombongan RA, rombogan masyarakat umum, rombongan beberpa organisasi desa seperti FANDEJA, IPNU & IPPNU, Ansor, tim sepak bola Parereja, tim bela diri Parereja, dan lain-lain.

Diawali oleh rombongan perangkat desa yang diikuti rombongan PASKIBRA Parereja, peserta pawai berjalan dari lapangan ke arah utara menuju panggung kehormatan. Di panggung penghormatan sudah menunggu Pak Kuwu (Wakim) dan Bu Kuwu (Ny. Winengsih) bersama Bu Murnaeni, SE sebagai anggota dewan yang baru saja dilantik untuk menyaksikan peserta karnaval. Desa Parereja ikut berbangga karena salah satu warganya dapat menjadi wakil masyarakat.

Di panggung kehormatan yang dipimpin oleh Bapak Warsidi, semua rombongan memberi hormat dan beberapa diantaranya menampilkan atraksi atau hanya sekadar orasi. Dari tim beladiri Parereja menampilkan beberapa gerakan dan menampilkan atraksi bambu gila. Dari anak-anak FANDEJA membacakan Suara Anak sekaligus menggelar Aksi Dukungan Gerakan Kembali Bersekolah dan Stop Pernikahan di Usia Anak dengan meminta tanda tangan kepada masyarakat Desa Parereja sebagai tanda bahwa masyarakat tidak lagi setuju dengan adanya pernikahan di usia anak.

Share ke :
Facebook
Google+
Twitter
Telegram
Email
WhatsApp

Iklan Layanan Masyarakat